Musim kemarau dan kebakaran lahan

Sekarang memang masih musim hujan, namun tidak lama lagi musim kemarau akan datang. Biasanya hal yang akrab dengan kemarau adalah kebakaran hutan. Disini saya gunakan istilah kebakaran lahan, karena seringkali bukan hutan saja yang terbakar, tetapi lahan yang banyak mengandung gambut. Sepertinya hal ini akan terus berulang, sampai yang akan terbakar itu samasekali sudah tidak ada lagi. Di Kalimantan setiap tahun kebakaran hutan ini jadi soal bagi semua orang. Bagi orang awam, akan merasakan pernafasannya terganggu, karena tingginya volume asap di udara. Belum lagi sekotor lainnya juga merasa akibatnya, seperti penerbangan akan terhenti, dan sebagainya.

Lalu apa saja yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi hal yang rutin setiap tahun ini terjadi? Pemerintah memang sudah membuat aturan yakni pembakaran lahan dilarang, dan bagi yang diketahui membakar akan dikenakan sanksi. Tapi dilihat dari faktanya, tahun lalu saja masih ada pembakaran lahan itu terjadi. Itu karena ada sebagian perusahaan perkebunan yang akan membuka lahan baru membakar limbahnya, dan masyarakat yang sangat tergantung hidupnya dari pertanian beramai-ramai membakar lahannya untuk bertani. Aparat Pemerintah lalu serba salah, mau menangkap terlalu banyak orangnya, dan akan dilawan dengan keras.

Selain dari hal itu, Pemerintah melalui Departemen Kehutanan sudah mengupayakan pemadaman kebakaran lahan dengan mengerahkan helikopter pemadam kebakaran. Namun itupun belum begitu efektif juga, karena luas lahan yang harus diatasi kebakarannya, tidak sebanding dengan jumlah helikopter yang cuma 2 buah saja, untuk semua propinsi di Kalimantan.

Ketika dahulu saya masih sekolah di tahun 70an, pada musim kebakaran lahan, guru kelas selalu membawa kami untuk bersama-sama memadamkan lahan dengan menggunakan kayu untuk memukul-mukul ranting atau daun yang terbakar atau menggunakan cangkul dan parang untuk menggali parit agar kebakaran itu tidak meluas. Pendek kata melakukan upaya memadamkan kebakaran lahan, sebagai peranserta. Kemudian setelah saya bekerja hingga di tahun 2000an, juga hampir sama begitu upaya yang dilakukan hampir setiap tahun. Persoalan utama yang sama dihadapi, adalah air untuk memadamkan api itu tidak ada yang dekat. Jadi memadamkan lahan, hanyak sekedar membuat lahan itu tidak kelihatan apinya, tapi asapnya masih ada. Jika kemudian angin datang, maka lahan itu bisa terbakar lagi.

Oleh karena itu, menurut pendapat saya, Pemerintah harus mempunyai suatu konsep yang dipersiapkan sebelumnya dan itu harus diperbaiki dan dikembangkan setiap tahun. Upaya tradisional seperti yang saya pernah lakukan itu, perlu juga dilakukan sebagai peranserta kecil dari masyarakat. Tapi itu harus dibantu dengan penyediaan air yang cukup. Lalu dari mana air itu? Padahal musim kemarau, sulit memperoleh air.
Tampaknya penyediaan hydran air dari pemboran air bawah tanah pada titik tertentu di setiap daerah yang rawan kebakaran lahan, perlu dipertimbangkan. Lalu penyediaan helikopter juga perlu ditambah, untuk seluruh daerah propinsi yang rawan kebakaran lahan tiap tahun, perlu disediakan paling tidak masing-masing 2 buah.

Suatu hal yang sering menjadi tantangan untuk dijawab, adalah apakah ada teknologi murah untuk membersihkan lahan tanpa membakar yang sekalanya luas? Barangkali ini adalah ruang bagi para ilmuwan dan peneliti untuk menggelutinya. Karena selama ini teknologi membakar ini yang dinilai paling murah.

Selain dari itu, diusulkan untuk pemantauan lokasi kebakaran, akses untuk mendapatkan data citra satelit tentang kebakaran lahan itu perlu diperluas bisa diperoleh dengan mudah oleh setiap orang, termasuk bagi aparat keamanan. Sekarang ini hanya instansi tertentu saja yang memiliki data itu, dan sering terlambat dipublikasikan. Setahu saya Departemen Kehutanan, sudah menyediakan pages untuk pemantauan kebakaran lahan melalui situs www.dephut.go.id, namun seringkali tidak bisa dibuka . Mungkin banyak yang mengaksesnya.

Hari Bumi di Indonesia

Pada tanggal 22 April 2008 yang akan datang dunia akan merayakan Hari Bumi (Earth Day) dan telah dibuka situs Earth Day page oleh Google untuk menampung sumbangan bagi organisasi lingkungan dari berbagai fihak yang turut merasa prihatin dengan kondisi lingkungan yang semakin menurun kualitasnya.

Jika disimak berbagai mass media di Indonesia dalam beberapa hari ini, tampaknya gaung hari bumi ini tidak begitu terasa. Orang masih disibukkan dengan masalah-masalah lain yang juga tidak kurang pentingnya.

Barangkali dengan sedikit menyumbang bagi organisasi lingkungan dunia, kita paling tidak berperanserta dalam mengatasi kondisi lingkungan dunia. Bersediakah anda ….?

Bagaimana Hutan di Indonesia ?

Bagi kami yang bertempat tinggal di pulau yang masih ada hutannya, hutan sudah sering dilihat. Baik yang masih perawan maupun yang sudah rusak berat. Namun dalam beberapa dekade ini, hutan sudah semakin menipis dan bahkan boleh dikatakan menghilang, akibat dari eksploitasi kayu hutan itu. Belum lagi sekarang sudah digalakkan lagi usaha perkebunan besar, yang sekali lagi mengambil alih tempat hutan itu dulunya berada. Memang ada lokasi yang diatur agar masih berhutan, yaitu Hutan Lindung. Namun jika diamati lebih jauh, maka hutan lindung itu sebenarnya tinggal nama saja. Karena hanya ditumbuhi oleh hutan sekunder tak bernilai ekonomis, dan semak-semak, atau rumput alang-alang. Menurut data World Bank tahun 2007, luas hutan hingga tahun 2005 tercatat hanya seluas 885.000 km2 saja dari semula di tahun 2000 seluas 978.500 Km2. Sedangkan menurut data statistik Asian Development Bank (ADB), tahun 1995 luas hutan 109.791.000 Ha dari sebelumnya tahun 1990 seluas 115.213.000 Ha. Jadi terlihat ada pengurangan luas hutan dari tahun ke tahun.

Sebagaimana diketahui fungsi hutan itu cukup banyak, antara lain ruang berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang juga sebagai niche bagi berbagai plasma nutfah, menyerap kadar Carbon Dioxida (CO2) dari udara, reservoar air dan bagi masyarakat disekitar hutan adalah sumber kebutuhan untuk kehidupannya. Dalam berbagai artikel telah disebutkan bahwa air adalah kehidupan, maka kalau kita kekurangan air berarti kekurangan hidup.

Lalu kita, sebagai manusia yang kebetulan banyak hidup di perkotaan, jauh dari hutan sering agak lupa bagaimana kondisinya hutan di Indonesia sekarang ini. Memang sudah banyak kelompok pencinta lingkungan yang berupaya untuk meminta Pemerintah dan mengajak masyarakat untuk memelihara hutan. Tampaknya upaya itu harus terus dilakukan dan didukung oleh berbagai fihak lainnya. Karena kurang cukup kuat untuk merubah berbagai kebijakan yang telah dibuat.

Jika kita semuanya menganggap bahwa hutan masih perlu dipertahankan, maka perlu ada tindakan nyata untuk melakukannya. Saya memang belum begitu tahu cara yang terbaik, untuk memelihara hutan kita di Indonesia yang sudah semakin menghilang. Pengalaman saya beberapa tahun lalu, dalam upaya untuk memelihara hutan dengan bersama-sama aktivis lokalĀ  Komite Nasional Pemuda Indonesia (Knpi) dan masyarakat mengupayakan penanaman kembali berbagai tumbuhan hutan, rupanya tidak begitu berhasil. Karena lokasi-lokasi penanaman itu sekarang sudah berubah fungsi.

Barangkali ada yang punya pemikiran atau konsep yang bagus?

Selamat Datang

Para pengunjung yang budiman,

Blog ini dibuat untuk menyampaikan berbagai pemikiran, pengalaman dan pengetahuan saya yang terbatas tentang berbagai hal soal lingkungan hidup. Tujuan saya hanyalah berbagi cerita saja.

Tentu disadari bahwa saya selama ini banyak berada di daerah pedesaan, sehingga kemampuan saya untuk menulis kurang baik, lagi pula referensi saya juga terbatas. Namun setidaknya terus mencoba akan lebih baik.

Penyampaian pendapat atau pemikiran, pengalaman melalui internet, bagi kami yang berada di daerah terpencil tentunya masih merupakan barang baru. Namun dengan adanya pengembangan jaringan internet hingga ke daerah-daerah, saya berkesempatan membuka saluran ini untuk menyampaikannya.

Semoga hal ini bermanfaat .

Terima kasih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.